Facebook

Bukan Sekadar Angka, Ponpes At-Ta’dib Rayakan Proses Belajar Santri di Pembagian Rapor Semester Awal

Pal 100, Ahad (4/1/2026) —
Pembagian rapor sering kali identik dengan deretan angka dan peringkat. Namun bagi Pondok Pesantren At-Ta’dib, rapor tidak hanya dibaca sebagai hasil akhir, melainkan sebagai cerita tentang proses: tentang anak-anak (khususnya santri baru) yang berusaha untuk betah, beradaptasi, dan terus belajar mencoba hal baru selama satu semester terakhir.

Bertempat di masjid pesantren, kegiatan Pembagian Rapor Semester Ganjil Tahun Ajaran 2025/2026 berlangsung dalam suasana hangat dan tertib. Sejak pukul 08.30 WIB, para wali santri mulai berdatangan untuk mengikuti rangkaian acara yang menjadi penanda berakhirnya kegiatan belajar santri pada semester ganjil.


Acara dibuka dengan khidmat oleh Ust. Lukman Farisi selaku pembawa acara, kemudian lanjut dengan mendengar tilawah Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Sunan Satria (santri 1 SMA). Berikutnya MC mempersilakan Bapak Adenan Saleh untuk memberikan sambutan singkat sebagai perwakilan wali santri yang hadir. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru atas pendampingan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak selama satu semester.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, para wali santri juga disuguhi demonstrasi penampilan hasil belajar santri yang akan disaksikan langsung. Penampilan ini menjadi ruang pembuktian bahwa proses belajar di pesantren tidak hanya tercatat di rapor, tetapi juga hidup dalam kemampuan nyata santri.

Sebagai penampilan awal, santri diminta maju ke depan untuk mengikuti uji hafalan hadits. Menariknya, para hadirin dipersilakan langsung menguji dengan menyebutkan nomor haditsnya, lalu santri akan membacakan hadits sesuai nomor yang disebutkan. Suasana pun terasa interaktif dan hangat, sekaligus menunjukkan ketekunan santri dalam menghafal.

Selanjutnya, ditampilkan uji hafalan mufradat (kosakata Bahasa Arab) dengan melibatkan langsung para orang tua. Setiap santri menyerahkan buku catatan mufradatnya kepada wali masing-masing, lalu orang tua menyebutkan arti kata dalam Bahasa Indonesia, yang kemudian dijawab oleh santri dengan padanan Bahasa Arabnya. Momen ini menghadirkan kebanggaan tersendiri, baik bagi santri maupun orang tua.

Tes hafalan Al-Qur’an santri juga ditampilkan dengan format sambung ayat. Pengasuh membacakan satu ayat, lalu santri yang ditunjuk diminta melanjutkan ayat berikutnya sesuai dengan hafalan yang dimiliki. Seluruh santri diuji secara bergantian, menampilkan capaian hafalan yang beragam namun terus berkembang.

Pada bidang bahasa, santri memperagakan kemampuan memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, masing-masing oleh satu orang santri. Lalu dilanjutkan lagi dengan drama ringan percakapan perkenalan, di mana dua santri berdialog menggunakan Bahasa Arab (muhadatsah), dan dua santri lainnya menggunakan Bahasa Inggris (conversation). Meski sederhana, penampilan ini menunjukkan keberanian, kepercayaan diri, serta hasil pembiasaan berbahasa yang telah dijalani.

Melalui penampilan-penampilan tersebut, wali santri dapat menyaksikan secara langsung proses dan hasil belajar anak-anak mereka. Tidak hanya mendengar laporan, tetapi melihat sendiri bagaimana ilmu, hafalan, dan keterampilan anak mereka mulai tumbuh dan berani ditampilkan di hadapan umum.

Berlanjut dalam sesi penyampaian evaluasi semester, Pengasuh Pesantren At-Ta’dib, Ustadz Ahmad Rofiq Alfaruq, mengingatkan bahwa rapor bukanlah tujuan akhir pendidikan. Nilai akademik tetap penting, namun proses belajar, ketekunan, dan adab santri selama menjalani kehidupan pesantren menjadi bagian yang tidak kalah utama. Beliau juga menekankan bahwa kemampuan santri untuk menyelesaikan satu semester pembelajaran merupakan capaian yang patut disyukuri. Rapor diharapkan menjadi bahan refleksi bersama, bukan beban bagi santri maupun orang tua.

Sebagai bentuk apresiasi, pesantren memberikan penghargaan kepada beberapa santri berdasarkan kelebihan dan karakter positif yang ditunjukkan selama semester berjalan. Penghargaan ini menjadi pesan bahwa setiap santri memiliki potensi dan jalan belajarnya masing-masing.


Menjelang akhir acara, santri mendapatkan nasihat agar masa liburan dimanfaatkan dengan baik, karena rapor sejati tidak hanya dibuktikan melalui nilai, tetapi juga melalui sikap, kebiasaan, dan akhlak santri di rumahnya. Ilmu yang telah dipelajari di pesantren diharapkan tetap diamalkan dalam keseharian mereka.

Setelah acara utama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian rapor dan sesi konsultasi antara wali santri dengan pengasuh secara bergiliran. Suasana dialogis mewarnai sesi ini, menjadi ruang bagi orang tua untuk menyampaikan masukan sekaligus mengetahui perkembangan anak secara lebih dekat.

Usai pembagian rapor, para santri resmi memasuki masa libur kepulangan selama 10 hari, terhitung sejak 4 hingga 14 Januari 2026. Pesantren mengingatkan agar santri tetap menjaga shalat, mengaji, serta disiplin waktu selama berada di rumah, sebagai bagian dari kesinambungan pendidikan antara pesantren dan keluarga.

Melalui kegiatan ini, Ponpes At-Ta’dib menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menghargai proses, membangun adab, dan menumbuhkan kebiasaan baik, sebagai bekal santri saat kembali ke pesantren dan melanjutkan perjalanan belajar mereka. Insyaallah.

Posting Komentar

0 Komentar