WhatsApp: 0822-6167-2476 official@attadib.ponpes.id Desa Pal 100, Bermani Ulu Raya, Rejang Lebong, Bengkulu
Berita Acara

Rihlah Perdana Tahun Ajaran Baru: Dari Pantai hingga Toko Buku, Menumbuhkan Cinta Ilmu di Kota Bengkulu

Gramedia Meranti, Bengkulu

Momen liburan bukan sekadar waktu untuk refreshing, tetapi juga kesempatan menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Itulah semangat yang dibawa dalam kegiatan rihlah perdana Tahun Ajaran 2026/2027 Pondok Pesantren At-Ta'dib yang dilaksanakan kemarin (06/08/2026).

Berbeda dengan dua rihlah sebelumnya yang berlokasi di Curup, kali ini para santri diajak menjelajah Kota Bengkulu. Perjalanan yang menempuh waktu sekitar tiga jam dari Pondok Pesantren At-Ta'dib di Pal 100 menjadi pengalaman tersendiri bagi para santri. Rombongan berangkat sejak pagi menggunakan mobil yang langsung dikemudikan oleh Ketua Yayasan.

Perjalanan terasa semakin nyaman dengan melintasi ruas Tol Taba Penanjung–Kota Bengkulu dan sempat merenggangkan kaki sebentar di rest area. Menjelang pukul 11.00 WIB, rombongan pun tiba di destinasi pertama, yakni Pantai Panjang.

Rest Area

Hamparan pasir yang luas, deburan ombak, dan semilir angin laut menjadi sambutan hangat bagi para santri. Sebelum menikmati suasana pantai, seluruh rombongan makan siang bersama dengan nasi bungkus dari RM Padang yang dibeli di perjalanan. Makan siang terasa semakin nikmat ditemani segarnya kelapa muda di pondokan tepi pantai.

Meski tidak berenang, para santri tampak antusias bermain di atas pasir, menjauhi ombak yang mengejar agar tidak basah, berjalan menyusuri bibir pantai, serta menikmati keindahan salah satu ikon wisata Kota Bengkulu tersebut. Suasana penuh canda dan tawa menghiasi kebersamaan siang itu.

Pantai Panjang

Ketika waktu Zhuhur tiba, rombongan melaksanakan shalat jamak qashar di masjid dekat pantai yang berada di samping Bencoolen Mall. Setelah menunaikan ibadah, para santri diajak melihat suasana pusat perbelanjaan tersebut sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama rihlah kali ini.

Destinasi yang paling dinantikan justru bukan tempat wisata, melainkan Gramedia Meranti.

Bagi sebagian besar santri, inilah pengalaman pertama mereka mengunjungi sebuah toko buku berskala besar. Rak-rak yang dipenuhi ribuan buku dengan beragam tema menghadirkan pengalaman baru yang mengesankan –biasanya hanya membaca di ruang 2x3m perpustakaan pesantren. Di sela-sela kunjungan, pengasuh pesantren berbagi kisah masa kecilnya yang selalu menyempatkan diri mengunjungi toko buku setiap kali masa kunjungan orang tua atau saat liburan tiba.

Beliau mengajak para santri untuk membangun kebiasaan serupa. Liburan tidak harus selalu identik dengan tempat hiburan. Mengunjungi toko buku, membaca, dan mengenal dunia literasi juga dapat menjadi cara menikmati waktu luang sekaligus memperkaya wawasan. Harapannya, kecintaan terhadap buku tumbuh sejak dini dan menjadi bagian dari karakter seorang penuntut ilmu.

Sekitar satu jam para santri menikmati suasana Gramedia. Ada yang sibuk membuka halaman demi halaman buku, ada yang membaca sinopsis, dan ada pula yang baru menyadari betapa luasnya dunia ilmu yang tersimpan di balik deretan rak buku. Tak hanya sekali terdengar celoteh girang mereka, "Way, tengok. Rak iko isinyo buku Tere Liye galo", "Ado Sherlock Holmes", "Iko nah sepaket Komik Muhammad Al-Fatih kek tokoh Islam lainnyo", dsbg. Meskipun setelah mendengar nada antusias itu suasana mendadak senyap ketika mereka melihat harga di sampul belakangnya. Ini pun bagian penting sebagai pengetahuan bagi mereka, bahwa banyak buku-buku bagus itu sering tidak terjangkau dan tak mudah diakses bagi kalangan biasa, tak seperti negara tetangga dan lainnya. 

Haul para santri

Setelah puas, menjelang sore rombongan kembali bertolak menuju pesantren dan tiba dengan selamat ketika waktu Maghrib tinggal kurang dari setengah jam lagi. Masih sempat bersiap shalat. 

Alhamdulillah, rihlah perdana tahun ajaran ini berlangsung dengan lancar dan penuh kesan. Perjalanan kali ini tidak hanya menghadirkan kegembiraan melalui wisata alam, tetapi juga menyisipkan pesan penting bahwa seorang santri hendaknya akrab dengan buku di mana pun ia berada. Sebab, sejauh apa pun langkah kaki melangkah, tujuan akhirnya tetap sama: semakin mencintai ilmu dan terus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Insyaallah. 

Tinggalkan Komentar

Tulis Komentar